2026-04-20 HaiPress

JAKARTA, iDoPress – Hidup di kota besar seperti Jakarta sering kali identik dengan ritme cepat, biaya hidup yang terus meningkat, serta jam kerja panjang yang menuntut orang dewasa selalu siap siaga.
Bagi para orangtua pekerja, situasi ini bukan sekadar soal kelelahan fisik, tetapi juga tekanan mental yang terus menumpuk tanpa jeda.
Dalam kondisi seperti itu, banyak yang akhirnya terjebak dalam parental burnout, yakni kelelahan ekstrem dalam menjalankan peran sebagai orangtua hingga kehilangan energi emosional untuk keluarga sendiri.
Fenomena ini tidak hanya dialami pasangan suami-istri yang sama-sama bekerja, tetapi juga ibu tunggal yang harus memikul beban ekonomi sekaligus pengasuhan seorang diri.
Di balik rutinitas harian yang tampak “normal”, tersimpan cerita tentang rasa bersalah, kehilangan identitas, hingga ledakan emosi karena hal-hal kecil.
Sesa (34), ibu dua anak yang tinggal di Jakarta Timur, mengaku sudah terbiasa menjalani hari yang dimulai sejak dini hari.
Pekerjaannya sebagai admin finance membuatnya harus menyeimbangkan ritme kantor dan kebutuhan rumah.
“Rutinitas saya jujur kayak enggak ada habisnya. Saya bangun jam 04.30 pagi. Kadang sebelum alarm karena udah kepikiran aja,” kata Sesa saat dihubungi iDoPress, Jumat (17/4/2026).
Pagi hari, Sesa langsung menyiapkan sarapan dan bekal. Ia juga harus memastikan anak pertama yang sudah TK siap sekolah, sementara anak kedua masih balita dan sering rewel.
Kondisi menjadi kacau ketika anak sulit mandi atau menangis. Dalam waktu bersamaan, ia harus memastikan seragam rapi, tas lengkap, hingga sepatu tidak tertinggal.
Meski mendapat bantuan suami, Sesa merasa tanggung jawab terbesar tetap ada pada dirinya.
Ia menyebut suaminya lebih banyak membantu pekerjaan yang terlihat, sementara tugas tak kasatmata seperti mengingat jadwal imunisasi, stok susu, pampers, hingga kebutuhan sekolah tetap menjadi bebannya.
“Saya merasa saya ini bukan cuma ibu, tapi kayak manajer rumah tangga,” tutur dia.
Beban tersebut tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Pikiran Sesa nyaris tidak pernah berhenti bekerja, bahkan saat tubuh sudah kelelahan.
“Orang lihatnya saya cuma ngurus anak. Padahal saya mikirin semuanya, bahkan sebelum kejadian,” kata Sesa.
Saat anak memberi tahu harus membawa kertas karton keesokan hari, pikirannya langsung bergerak: harus beli di mana, sempat atau tidak, dan apa yang harus dikorbankan.
Tekanan semakin besar karena Jakarta tidak memberi ruang untuk terlambat. Sedikit saja terlambat, kemacetan bisa membuatnya tiba di kantor pukul 09.00 WIB.
Sepulang kerja, rutinitas rumah tangga kembali dimulai.
“Pulang kerja itu bukan istirahat. Saya sampai rumah langsung urus anak lagi. Anak minta ditemenin main, anak minta makan,” ucap Sesa.
Ia sering baru menyelesaikan pekerjaan rumah sekitar pukul 23.00 WIB. Namun setelah itu pun, pikirannya tetap berputar.
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16
04-16