Rumah Berita Informasi Produk Bayi Internet Peralatan game Ikon mode Teknologi Kehidupan indonesia Keuangan Brigade Budaya Hotel Kesehatan Olahraga Perumahan Makanan Cerdas Pendidikan Mobil Hiburan

Harga Pertamax Naik, Pekerja Jakarta: Semoga Uang Transpor dari Kantor Ikut Naik

2026-06-10 HaiPress

JAKARTA, iDoPress - Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, Pertamax dan Pertamax Green 95, membuat pengeluaran para pekerja yang memiliki mobilitas tinggi di Jakarta kian membengkak.

Di tengah kepungan harga-harga yang serba naik dan melonjaknya harga BBM, Rifki (25), seorang karyawan swasta menyampaikan harapannya agar perusahaan tempatnya bekerja sudi menambah uang tunjangan transportasi.

"Ya kalau saya sih penginnya harga bensin dikendalikanlah. Atau ya kalau bisa kantor saya nambahin gitu uang transport-nya, kan sekarang apa-apa mahal, bensin juga udah naik jadi harusnya uang transport dinaikin aja, Rp 100.000 atau Rp 200.000 gitu tambahannya," ujar Rifki saat ditemui iDoPress di SPBU kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (10/6/2026).

Sebagai seorang pekerja yang bertugas melakukan survei lapangan setiap hari, Rifki mengaku bisa mengisi penuh tangki bensinnya hingga tiga kali seminggu.

Ia mendapat jatah uang transportasi dan servis kendaraan dari kantornya sebesar Rp 500.000 per bulan.

Namun, nominal tersebut dirasa mulai tak relevan dengan lonjakan harga BBM dan biaya bengkel saat ini.

Pasalnya, selain kenaikan harga Pertamax, melonjaknya harga suku cadang yang berujung pada semakin mahalnya biaya servis kendaraan juga turut membebani keuangannya.

Rifki menjelaskan, alasannya tetap menggunakan Pertamax adalah karena motornya memang tidak dirancang untuk menggunakan BBM bersubsidi dengan RON 90.

"Motor saya itu kan emang kebetulan di speknya harus pakai bensin yang RON 92, makanya dari dulu pakainya Pertamax. Kalau dipaksain pakai Pertalite, saya takutnya nanti mesinnya gampang aus. Bensin kan ngaruh ke performa dan keawetan motor juga," tuturnya.

Beralih ke Pertalite

Sementara itu, Dani (28) seorang warga Cengkareng Timur, Jakarta Barat, yang bekerja di sebuah gerai penjualan ayam goreng yang biasanya menggunakan Pertamax, kini mulai beralih ke BBM Pertalite.

"Motor saya itu sekitar 4,5 liter. Kalau dulu bawa uang gocap (Rp 50.000) juga udah cukup menuhin motor, mau Pertalite apa Pertamax juga. Kalau sekarang gocap mah enggak berasa, baru dapat 3 liter itu, kalau mau penuh ya berarti udah mau Rp 80.000," kata Dani.

Demi menghemat anggaran bensin, ia pun telah menyiapkan mental untuk membiasakan diri menghadapi antrean panjang di dalam SPBU setiap ingin mengisi bensin.

"Udah ketebak pasti bakal antre panjang lah Pertalite, siap-siap aja kalau ngisi bensin harus luangin waktu dulu jangan pas mepet," ucapnya.

Senada, Kiki (27) mengaku juga terpaksa beralih ke Pertalite imbas kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp 3.950 menjadi Rp 16.250.

Ia menyebut ingin menjajal terlebih dahulu penggunaan Pertalite selama beberapa waktu untuk memutuskan apakah akan beralih sepenuhnya atau tetap mengandalkan Pertamax.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Informasi indonesia      Hubungi kami   SiteMap