Rumah Berita Informasi Produk Bayi Internet Peralatan game Ikon mode Teknologi Kehidupan indonesia Keuangan Brigade Budaya Hotel Kesehatan Olahraga Perumahan Makanan Cerdas Pendidikan Mobil Hiburan

BBM Naik Lagi! Pertamax Rp 16.250, Warga Bekasi Mulai Hemat Ketat

2026-06-10 HaiPress

BEKASI, iDoPress – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter mulai Rabu (10/6/2026) membuat sejumlah warga Bekasi harus memutar otak untuk mengatur kembali pengeluaran bulanan mereka.

Pantauan iDoPress di SPBU Jalan Agus Salim, Bekasi Timur, Rabu pagi, menunjukkan aktivitas pengisian BBM tetap berjalan normal.

Pengguna mobil dan sepeda motor masih terlihat mengisi Pertamax meski harganya naik signifikan.

Di sisi lain, antrean kendaraan yang mengisi Pertalite juga tampak ramai. Mayoritas penggunanya merupakan pengemudi ojek online, pelajar, hingga ibu rumah tangga.

Salah satu pengendara motor pengguna Pertamax, Jamaludin Aris (38), mengaku terkejut saat mengetahui harga BBM tersebut naik hampir Rp 4.000 per liter.

"Kaget sih. Bangun tidur tahu-tahu harga BBM sudah naik. Kalau tahu sebelumnya, mungkin kemarin saya sudah isi penuh dulu," ujar Jamaludin saat ditemui di lokasi, Rabu.

Menurut dia, kenaikan harga BBM cukup memberatkan di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Selama ini, ia memilih menggunakan Pertamax karena tidak ingin memakai BBM subsidi.

"Tapi harga BBM non-subsidi sekarang malah semakin memberatkan. Mau enggak mau harus hitung ulang pengeluaran perbulannya. Biar enggak boncos," katanya.

Meski demikian, Jamaludin belum berencana meninggalkan Pertamax. Ia tetap mengisi BBM dengan nominal yang sama seperti sebelumnya.

"Biasanya saya isi sekitar Rp 55.000, sekarang tetap Rp 55.000, tapi dapatnya berapa liter ya segitu saja," ujarnya.

Kenaikan harga tersebut membuat Jamaludin mulai mencari cara untuk menghemat biaya transportasi.

"Mungkin saya bakal mencampur isi BBM-nya. Misalnya minggu ini Pertalite, minggu depannya Pertamax," kata dia.

Ia juga berharap kenaikan harga BBM dilakukan secara bertahap agar masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan kondisi keuangan.

"Kalau memang harus naik, sebaiknya bertahap. Misalnya Rp 1.000 per bulan. Jadi masyarakat punya waktu untuk menyesuaikan diri secara mental dan finansial," ujarnya.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Informasi indonesia      Hubungi kami   SiteMap