Rumah Berita Informasi Produk Bayi Internet Peralatan game Ikon mode Teknologi Kehidupan indonesia Keuangan Brigade Budaya Hotel Kesehatan Olahraga Perumahan Makanan Cerdas Pendidikan Mobil Hiburan

Korban Pemerkosaan Ayah dan Paman di Bekasi Sempat Lapor ke Ibu tapi Tak Digubris

2026-07-16 HaiPress

BEKASI, iDoPress – Seorang perempuan berinisial IA (22), warga Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, mengaku sempat mengadukan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan ayah kandung dan dua pamannya kepada sang ibu.

Namun, menurut korban, pengaduan itu tidak digubris sehingga ia terus memendam peristiwa tersebut sejak berusia sekitar 13 tahun.

"Ibunya hanya mengatakan, 'Tidak apa-apa, yang penting tidak hamil. Dan asal jangan dengan orang lain,'" ujar Kuasa hukum korban Cut Bietty, saat ditemui iDoPress, Kamis (16/7/2026).

Menurut Cut, IA menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh paman dari pihak ibunya yang berinisial W, paman dari pihak ayah yang berinisial S, serta ayah kandung korban berinisial WS.

Cut mengatakan, karena tidak mendapatkan perlindungan dari sang ibu, IA mengalami gangguan psikologis karena terpuruk memendam pengalaman tersebut selama bertahun-tahun.

Cut menuturkan, korban merupakan pribadi yang pendiam dan tidak memiliki teman dekat.

Menurut pengakuan korban, ia juga kerap mengalami kekerasan dari ibunya sehingga merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita.

"Menurut pengakuan korban, ia sering mendapat kekerasan dari ibunya sehingga tidak memiliki tempat bercerita," kata Cut.

Merasa tidak lagi memiliki tempat pertolongan di lingkungan keluarga, IA akhirnya memberanikan diri menceritakan yang dialaminya kepada perempuan berinisial J yang dikenalnya di sebuah gereja tidak jauh dari rumahnya.

Perempuan tersebut kemudian membantu korban menyusun kronologi pengaduan yang dikirimkan ke LBH APIK Jawa Barat melalui layanan pengaduan daring.

Setelah menerima laporan sekitar awal Juli 2026, tim pendamping langsung menghubungi korban.

Dari komunikasi tersebut diketahui korban mengalami tekanan psikologis berat dan sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

"Setelah membaca kronologinya, kami sangat prihatin karena korban menyampaikan keinginan untuk bunuh diri," kata Cut.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, korban memperlihatkan bekas luka sayatan di tangannya yang diduga merupakan akibat percobaan mengakhiri hidup menggunakan pecahan kaca.

Menurut Cut, tim pendamping kemudian memutuskan untuk segera mengevakuasi korban setelah mendengar pesan yang disampaikan IA.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
© Hak Cipta 2009-2020 Informasi indonesia      Hubungi kami   SiteMap